BAB 2
PEMBAHASAN
1.
SURAT AL MA’ARIJ AYAT 19-27
Dalam kronologi surah Al Ma’arij ayat 19 – 27
Tidak bisa dipungkiri kalau memang kenyataannya manusia itu sebenarnya
adalah mahluk yang lemah hanya saja kekurangan itu dapat di tutupi karna
manusia di beri kelebihan yang tidak dimiliki oleh mahluk selain manusia yakni
bahwa manusia itu dianugrahi akal oleh sang Maha Mengetahui . Dengan akal
tersebut manusia dapat menutupi kekurangannya . Namun, kemudian yang sangat
disayangkan justru manusia itu lupa akan kenyataan dirinya dan dia mulai
menjadi angkuh kepada Tuhannya, berkehendak sesuka hatinya dan menjadi congkak,
sebagaimana kehidupan bangsa dimasa lampau, sehingga akhirnya mereka di
binasakan akibat ulah perbuatan mereka sendiri .
Manusia seharusnya dapat menyadari
bahwa dirinya diciptakan dimuka bumi ini karna memiliki tugas yang harus
diembannya yang tidak lain bahwa didalam menjalani hidup ini manusia mempunyai
visi berupa amanah yang harus ia jalankan dengan sebaik-baiknya karena amanah
tersebut langsung dari sang Maha Pencipta sehingga nanti dihadapannya harus ia
pertanggung-jawabkan dengan segala konseku kuensinya .Oleh karnanya
kelemahan-kelemahanya seharusnya menjadi kaca supaya ia dapat mengantisi pasi
atas segala kekurangannya sehingga ahirnya Ia tidak menjadi orang yang ingkar
terhadap segala apa yang telah diperintahkan Tuhan untuknya .
Tuhan menciptakan manusia dengan
bentuk yang paling sempurna bukan berarti lantas manusia itu lupa dengan
identitas dirinya sebagai mahluk ciptaan _yang mana seharusnya Ia sadar kalau
hidup ini adalah sekedar lintasan_ yang berarti hidup ini hanyalah sementara
saja :
Sebagaimana firman Allah dalam Surah
Al Ma’arij ayat 19-27
إِنَّ
الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ¤ إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ¤ وَإِذَا مَسَّهُ
الْخَيْرُ مَنُوعًا ¤ إِلا الْمُصَلِّينَ ¤ الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ
دَائِمُونَ ¤ وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ ¤ لِلسَّائِلِ
وَالْمَحْرُومِ ¤ وَالَّذِينَ يُصَدِّقـــُونَ بِيَوْمِ الد ِّيــن ¤ ِ
وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِرَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ ¤
“ Sesungguhnya manusia diciptakan
bersifat keluh kesah lagi kikir.Q Apabila ia ditimpa kesusahan ia
berkeluh kesah,Q dan apabila ia mendapat
kebaikan ia amat kikir,Q kecuali orang-orang yang mengerjakan
salat,Q yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya,Q dan
orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu Q bagi orang
(miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau
meminta),Q dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,Q dan
orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. ( Q.S Al Ma’arij ; 19-27 )
Pada ayat ini ditegaskan bahwa
manusia itu bersifat suka berkeluh kesah dan kikir. Namun, sifat ini dapat
diubah jika dituruti petunjuk Tuhan yang dinyatakan-Nya dalam ayat 22 s.d. 24.
Manusia yang menghindari petunjuk Tuhan dan seruan Rasul; mereka adalah
orang-orang yang sesat.
2.SURAT AR-RUM AYAT 54
Dalam
kronologi surah Ar Rum ayat 54
اللَّهُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ
جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ
الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari
keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi
kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan
beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha
Mengetahui lagi Maha Kuasa.
Kepada manusia dibentangkan jalan
yang lurus yang menuju kepada keridaan Allah dan kebahagiaan hidup di dunia dan
di akhirat sebagaimana yang disampaikan Rasulullah yang termuat dalam Alquran
dan hadis. Di samping itu terbentang pula jalan yang sesat, jalan yang
dimurkai-Nya yang menuju kepada tempat yang penuh derita dan sengsara di
akhirat nanti. Manusia boleh memilih sa1ah satu dari kedua jalan itu; jalan
mana yang akan ditempuhnya, apakah jalan yang lurus atau jalan yang sesat.
Kemudian mereka diberi balasan nanti sesuai dengan pilihan mereka itu.
Ini adalah bagian terahir atau
keempat dari ayat-ayat yang berbicara tentang perbuatan-perbuatan Allah swt.
yang membuktikan ke-Esaan-Nya dan keniscayaan hari kiamat .Ayat diatas
dikemukakan setelah aneka ragam argumen dan bukti yang telah dipaparkan oleh
ayat yang sebelumnya .Argumen yang dikemukakan disini mencakup keadaan manusia
pada tahap yang paling dini dari kehidupannya, sampai ketahap akhir
keberadaannya di pentas bumi sambil menunjukkan kekuasaannya mempergantikan
kondisi manusia .Ayat ini memulai dengan menyebut nama wujud yang teragung dan
yang terkhusus baginya serta yang mencakup segala sifat-Nya yakni;
Allah swt dialah menciptakan manusia
dari keadaan lemah yakni setetes seperma yang bertemu dengan indung telur
laki-laki, tahap demi tahap meningkat dan meningkat hingga kemudian setelah
melalui tahap bayi, kanak-kanak, dan remaja hingga ahirnya menjadi lansia .Dia
menjadikan kamu sesudah kamu dalam keadaan lemah itu memiliki kemampuan
sehingga kamu menjadi dewasa dan memasuki fase yang sempurna, hal ini memang
mengikuti hukum sunatullah yakni dalam proses perubahan manusia melalui tahap
demi tahap agar manusia dapat berfikir dan merenungkan hakekat penciptaanya dan
ahir dari kehidupannya atau fase ahir dunia yang berupa kematian, sehingga dia
tidak ingkar kepada sang Penciptanya .
Dia menjadikan kamu sesudah
menyandang kekuatan itu menderita kelemahan _kembali dengan hilangnya sekian
banyak potensi dan munculnya tanda-tanda peringatan alamiah yang berupa
hilangnya kekuatan dan potensi diri tadi .Dia menciptakan apa yang ia kehendaki
sesuai dengan ke-Esaan-Nya yang Maha Agung dan Dialah yang Maha Perkasa atas
segala sesuatu .
Ayat diatas melukiskan pertumbuhan
fisik kendati kelemahan dan kekuatan berkaitan juga dengan mental seseorang
.Ada kelemahan manusia menghadapi sekian banyak godaan, juga tantangan yang
menjadikan semangatnya berkurang .Disisi lain ada kekuatan yang dianugrahkan
Allah berupa kekuatan fisik dan mental dalam menghadapi gelombang hidup .Tentu
saja kekuatan dan kelemahan fisik maupun mental seseorang berbeda kadar
kemampuannya tiap individu yang satu dengan individu yang lainnya, diatas dasar
itulah agaknya kata ضعف _dha’if” kelemahan dan kata قـوة _Quwattun” kekuatan diaplikasikan
dalam bentuk indefinit .
Perlu dicatat bahwa apa yang
dikemukakan ayat diatas adalah uraian tentang tahap-tahap hidup manusia secara
umum, bahkan yang dialami oleh umunya setiap manusia_ .Karna diantara manusia
tidak
menentu didalam perjalanan hidupnya yakni diantaranya manusia ada yang
meninggal dunia di tahap awal perjalanan hidupnya, ada juga yang pada fase
puncak kejayaannya .Namun, jika tahap puncak itu dilampauinya, maka pasti dia
akan mengalami tahap kelemahan lagi .Adapun yang dialami manusia, hakikatnya
semua kembali pada Allah swt. Karena itu, setelah menyebut tahap-tahap
tersebut, ayat diatas mengegaskan bahwa Dia menciptakan apa yang ia kehendaki,
dan menetapkan buat manusia tahap-tahap yang dilalui serta kadar masing-masing
itu sama-sama ditetapkan atas dasar kekuasan-Nya yang menye luruh, karna Dia
Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa .
2.
SURAT AL- AHZHAB AYAT 72
Dalam kronologi surah Al Ahzhab ayat 72
إِنَّا
عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ
يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ
ظَلُومًا جَهُولا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada
langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu
dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh,
Al-‘Aufi
berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yang dimaksud dengan al-amanah adalah, ketaatan yang
ditawarkan kepada mereka sebelum ditawarkan kepada Adam, akan tetapi mereka
tidak menyanggupinya. Lalu Allah swt. berfirman kepada Adam: “Sesungguhnya Aku
memberikan amanah kepada langit dan bumi serta gunung-gunung, akan tetapi
mereka tidak menyanggupinya. Apakah kamu sanggup untuk menerimanya?” Dia
menjawab: “Ya Rabb-ku, apa isinya?” Allah berfirman: “Jika engkau berbuat baik,
engkau akan diberi balasan, dan jika engkau berbuat keburukan engkau akan
disiksa.” Lalu Adam as. menerimanya dan menanggungnya. Itulah firman Allah: wa
hamalaHal insaanu innal insaanu kaana dhaluuman jaHuulan (“dan dipikullah amanat
itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dhalim dan amat bodoh.”)
KESIMPULAN
Manusia seharusnya dapat menyadari
bahwa dirinya diciptakan dimuka bumi ini karna memiliki tugas yang harus
diembannya yang tidak lain bahwa didalam menjalani hidup ini manusia mempunyai
visi berupa amanah yang harus ia jalankan dengan sebaik-baiknya karena amanah
tersebut langsung dari sang Maha Pencipta sehingga nanti dihadapannya harus ia
pertanggung-jawabkan dengan segala konseku kuensinya .Oleh karnanya
kelemahan-kelemahanya seharusnya menjadi kaca supaya ia dapat mengantisi pasi
atas segala kekurangannya sehingga ahirnya Ia tidak menjadi orang yang ingkar
terhadap segala apa yang telah diperintahkan Tuhan untuknya .
Kepada manusia dibentangkan jalan
yang lurus yang menuju kepada keridaan Allah dan kebahagiaan hidup di dunia dan
di akhirat sebagaimana yang disampaikan Rasulullah yang termuat dalam Alquran
dan hadis. Di samping itu terbentang pula jalan yang sesat, jalan yang dimurkai-Nya
yang menuju kepada tempat yang penuh derita dan sengsara di akhirat nanti.
Manusia boleh memilih sa1ah satu dari kedua jalan itu; jalan mana yang akan
ditempuhnya, apakah jalan yang lurus atau jalan yang sesat. Kemudian mereka
diberi balasan nanti sesuai dengan pilihan mereka itu.
KELEBIHAN
MANUSIA DALAM SURAT AL MA’RIJ AYAT 19-27,SURAT ARRUM AYAT 54 DAN SURAT AL AHZAB
AYAT 72
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Shuhuf Subkhan

Disusun
oleh : Irwan Dahlan
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
BREBES
2015
No comments:
Post a Comment