Thursday, November 19, 2015

BAB 2
PEMBAHASAN
1.      SURAT AL MA’ARIJ AYAT 19-27

Dalam kronologi surah Al Ma’arij ayat 19 – 27
Tidak bisa dipungkiri kalau memang kenyataannya manusia itu sebenarnya adalah mahluk yang lemah hanya saja kekurangan itu dapat di tutupi karna manusia di beri kelebihan yang tidak dimiliki oleh mahluk selain manusia yakni bahwa manusia itu dianugrahi akal oleh sang Maha Mengetahui . Dengan akal tersebut manusia dapat menutupi kekurangannya . Namun, kemudian yang sangat disayangkan justru manusia itu lupa akan kenyataan dirinya dan dia mulai menjadi angkuh kepada Tuhannya, berkehendak sesuka hatinya dan menjadi congkak, sebagaimana kehidupan bangsa dimasa lampau, sehingga akhirnya mereka di binasakan akibat ulah perbuatan mereka sendiri .
Manusia seharusnya dapat menyadari bahwa dirinya diciptakan dimuka bumi ini karna memiliki tugas yang harus diembannya yang tidak lain bahwa didalam menjalani hidup ini manusia mempunyai visi berupa amanah yang harus ia jalankan dengan sebaik-baiknya karena amanah tersebut langsung dari sang Maha Pencipta sehingga nanti dihadapannya harus ia pertanggung-jawabkan dengan segala konseku kuensinya .Oleh karnanya kelemahan-kelemahanya seharusnya menjadi kaca supaya ia dapat mengantisi pasi atas segala kekurangannya sehingga ahirnya Ia tidak menjadi orang yang ingkar terhadap segala apa yang telah diperintahkan Tuhan untuknya .
Tuhan menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna bukan berarti lantas manusia itu lupa dengan identitas dirinya sebagai mahluk ciptaan _yang mana seharusnya Ia sadar kalau hidup ini adalah sekedar lintasan_ yang berarti hidup ini hanyalah sementara saja :
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al Ma’arij ayat 19-27
إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ¤ إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ¤ وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا ¤ إِلا الْمُصَلِّينَ ¤ الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ ¤ وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ ¤ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ ¤ وَالَّذِينَ يُصَدِّقـــُونَ بِيَوْمِ الد ِّيــن ¤ ِ وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِرَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ ¤
“ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.Q Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,Q dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,Q kecuali orang-orang yang mengerjakan salat,Q yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya,Q dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu Q bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),Q dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,Q dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. ( Q.S Al Ma’arij ; 19-27 )
Pada ayat ini ditegaskan bahwa manusia itu bersifat suka berkeluh kesah dan kikir. Namun, sifat ini dapat diubah jika dituruti petunjuk Tuhan yang dinyatakan-Nya dalam ayat 22 s.d. 24. Manusia yang menghindari petunjuk Tuhan dan seruan Rasul; mereka adalah orang-orang yang sesat.
  2.SURAT  AR-RUM AYAT 54
Dalam kronologi surah Ar Rum ayat 54
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
Kepada manusia dibentangkan jalan yang lurus yang menuju kepada keridaan Allah dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat sebagaimana yang disampaikan Rasulullah yang termuat dalam Alquran dan hadis. Di samping itu terbentang pula jalan yang sesat, jalan yang dimurkai-Nya yang menuju kepada tempat yang penuh derita dan sengsara di akhirat nanti. Manusia boleh memilih sa1ah satu dari kedua jalan itu; jalan mana yang akan ditempuhnya, apakah jalan yang lurus atau jalan yang sesat. Kemudian mereka diberi balasan nanti sesuai dengan pilihan mereka itu.
Ini adalah bagian terahir atau keempat dari ayat-ayat yang berbicara tentang perbuatan-perbuatan Allah swt. yang membuktikan ke-Esaan-Nya dan keniscayaan hari kiamat .Ayat diatas dikemukakan setelah aneka ragam argumen dan bukti yang telah dipaparkan oleh ayat yang sebelumnya .Argumen yang dikemukakan disini mencakup keadaan manusia pada tahap yang paling dini dari kehidupannya, sampai ketahap akhir keberadaannya di pentas bumi sambil menunjukkan kekuasaannya mempergantikan kondisi manusia .Ayat ini memulai dengan menyebut nama wujud yang teragung dan yang terkhusus baginya serta yang mencakup segala sifat-Nya yakni;
Allah swt dialah menciptakan manusia dari keadaan lemah yakni setetes seperma yang bertemu dengan indung telur laki-laki, tahap demi tahap meningkat dan meningkat hingga kemudian setelah melalui tahap bayi, kanak-kanak, dan remaja hingga ahirnya menjadi lansia .Dia menjadikan kamu sesudah kamu dalam keadaan lemah itu memiliki kemampuan sehingga kamu menjadi dewasa dan memasuki fase yang sempurna, hal ini memang mengikuti hukum sunatullah yakni dalam proses perubahan manusia melalui tahap demi tahap agar manusia dapat berfikir dan merenungkan hakekat penciptaanya dan ahir dari kehidupannya atau fase ahir dunia yang berupa kematian, sehingga dia tidak ingkar kepada sang Penciptanya .
Dia menjadikan kamu sesudah menyandang kekuatan itu menderita kelemahan _kembali dengan hilangnya sekian banyak potensi dan munculnya tanda-tanda peringatan alamiah yang berupa hilangnya kekuatan dan potensi diri tadi .Dia menciptakan apa yang ia kehendaki sesuai dengan ke-Esaan-Nya yang Maha Agung dan Dialah yang Maha Perkasa atas segala sesuatu .
Ayat diatas melukiskan pertumbuhan fisik kendati kelemahan dan kekuatan berkaitan juga dengan mental seseorang .Ada kelemahan manusia menghadapi sekian banyak godaan, juga tantangan yang menjadikan semangatnya berkurang .Disisi lain ada kekuatan yang dianugrahkan Allah berupa kekuatan fisik dan mental dalam menghadapi gelombang hidup .Tentu saja kekuatan dan kelemahan fisik maupun mental seseorang berbeda kadar kemampuannya tiap individu yang satu dengan individu yang lainnya, diatas dasar itulah agaknya kata ضعف _dha’if” kelemahan dan kata قـوة _Quwattun” kekuatan diaplikasikan dalam bentuk indefinit .
Perlu dicatat bahwa apa yang dikemukakan ayat diatas adalah uraian tentang tahap-tahap hidup manusia secara umum, bahkan yang dialami oleh umunya setiap manusia_ .Karna diantara manusia tidak
menentu didalam perjalanan hidupnya yakni diantaranya manusia ada yang meninggal dunia di tahap awal perjalanan hidupnya, ada juga yang pada fase puncak kejayaannya .Namun, jika tahap puncak itu dilampauinya, maka pasti dia akan mengalami tahap kelemahan lagi .Adapun yang dialami manusia, hakikatnya semua kembali pada Allah swt. Karena itu, setelah menyebut tahap-tahap tersebut, ayat diatas mengegaskan bahwa Dia menciptakan apa yang ia kehendaki, dan menetapkan buat manusia tahap-tahap yang dilalui serta kadar masing-masing itu sama-sama ditetapkan atas dasar kekuasan-Nya yang menye luruh, karna Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa .

2.      SURAT AL- AHZHAB AYAT 72

Dalam kronologi surah Al Ahzhab ayat 72
إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh,


Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yang dimaksud dengan al-amanah adalah, ketaatan yang ditawarkan kepada mereka sebelum ditawarkan kepada Adam, akan tetapi mereka tidak menyanggupinya. Lalu Allah swt. berfirman kepada Adam: “Sesungguhnya Aku memberikan amanah kepada langit dan bumi serta gunung-gunung, akan tetapi mereka tidak menyanggupinya. Apakah kamu sanggup untuk menerimanya?” Dia menjawab: “Ya Rabb-ku, apa isinya?” Allah berfirman: “Jika engkau berbuat baik, engkau akan diberi balasan, dan jika engkau berbuat keburukan engkau akan disiksa.” Lalu Adam as. menerimanya dan menanggungnya. Itulah firman Allah: wa hamalaHal insaanu innal insaanu kaana dhaluuman jaHuulan (“dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dhalim dan amat bodoh.”)
























KESIMPULAN
Manusia seharusnya dapat menyadari bahwa dirinya diciptakan dimuka bumi ini karna memiliki tugas yang harus diembannya yang tidak lain bahwa didalam menjalani hidup ini manusia mempunyai visi berupa amanah yang harus ia jalankan dengan sebaik-baiknya karena amanah tersebut langsung dari sang Maha Pencipta sehingga nanti dihadapannya harus ia pertanggung-jawabkan dengan segala konseku kuensinya .Oleh karnanya kelemahan-kelemahanya seharusnya menjadi kaca supaya ia dapat mengantisi pasi atas segala kekurangannya sehingga ahirnya Ia tidak menjadi orang yang ingkar terhadap segala apa yang telah diperintahkan Tuhan untuknya .
Kepada manusia dibentangkan jalan yang lurus yang menuju kepada keridaan Allah dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat sebagaimana yang disampaikan Rasulullah yang termuat dalam Alquran dan hadis. Di samping itu terbentang pula jalan yang sesat, jalan yang dimurkai-Nya yang menuju kepada tempat yang penuh derita dan sengsara di akhirat nanti. Manusia boleh memilih sa1ah satu dari kedua jalan itu; jalan mana yang akan ditempuhnya, apakah jalan yang lurus atau jalan yang sesat. Kemudian mereka diberi balasan nanti sesuai dengan pilihan mereka itu.













KELEBIHAN MANUSIA DALAM SURAT AL MA’RIJ AYAT 19-27,SURAT ARRUM AYAT 54 DAN SURAT AL AHZAB AYAT 72
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Shuhuf Subkhan



Disusun oleh : Irwan Dahlan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
BREBES

2015

No comments:

Post a Comment