Thursday, December 10, 2015
Tarbiyah
merupkan bentuk masdar dari kata robba-yurabbi-tarbiyyatan, yang berarti pendidikan. Sedangkan menurut istilah merupakan tindakan mangasuh, mendididk dan memelihara.
Muhammad Jamaludi al- Qosimi memberikan pengertian bahwa tarbiyah merupakan proses penyampian sesuatu batas kesempurnaan yang dilakukan secara setahap demi setahap. Sedangkan Al-Asfahani mengartikan tarbiyah sebagai proses menumbuhkan sesuatu secara setahap dan dilakukan sesuai pada batas kemampuan.
Menurut pengertian di atas, tarbiyah diperuntukkan khusus bagi manusia yang mempunyai potensi rohani, sedangkan pengertian tarbiyah yang dikaitkan dengan alam raya mempunyai arti pemeliharaan dan memenuhi segala yang dibutuhkan serta menjaga sebab-sebab eksistensinya.
At-Tarbiyat dalam Al-Quran :
1. Arbabun, terdapat dalm QS. Yusuf : 39. Al-Juzi mengatakan bahwa arbabun dalam ayat tersebut artinya berhala, baik kecil maupun besar.
2. Arbaban, terdapat dalam QS. Ali Imran : 64. Ath-Thabari, Al-Juzi, Al-Maraghi bahwa yang dimaksud arbaban pada ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi yang menjadikan pendeta-pendetanya (seperti ulama dalam bidang agama)
3. Ribbiyuna, terdapat dalam Q.S. Ali Imran : 146 “ sekelompok orang yang beribadah kepada Tuhannya, baik dari kelompok ahli fiqih, para ulama, para pengajar maupun pelajar/siswa”.
4. Rabiyan, , terdapat dalam Q.S. Ar-Ra’du : 17 “tinggi diatas air /mengambang diatas air”.
5. Rabiyyata, , terdapat dalam Q.S. Al-Haqqat : 10, “Kerasnya adzab/siksa Allah SWT”.
6. Rabwatan, , terdapat dalam Q.S. Mu’minun : 50, “tempat/tanah yang tinggi”.
7. Rabbat, , terdapat dalam Q.S. Fushilat : 39 dan Q.S. Al-Hajj : 5, “ memenuhi atau mengembang /meniggi, bertambah”.
8. Riba/ ar-riba, terdapat dalam QS. Ali Imran : 130, dan QS. Al-Baqarah : 257. kata riba/ ar-riba adalah az-ziyadah (bertambah atau berkembang).
9. Yarbu, , terdapat dalam Q.S. Ar-Rum : 39, “bersih atau berlipat ganda/bertambah”.
10. Yurbi, , terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah :276 “bertambah, berkembang, dan berlipat ganda”.
11. Arba, terdapat dalam QS. Al-Nahl : 92. arba berarti aktsara (lebih banyak). Keduanya menunjukkan arti yang tidak berbeda.
At-Tarbiyat dalam Al-Hadits
Kosakata yang ada dalam hadits baik dalam bentuk fi’l maupun dalam bentuk ism. Kata-kata tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tarubbu (menjaga, memelihara, dan mengurus).
2. Yurabbi (memelihara dari sejak kecil sampai besar)
3. Yurabbani ( kata Yurabbani, bermakna yasudani yang berarti memimpin).
4. Yurabbi (mendidik dengan unsur ta’lim di dalamnya).
5. Rabba (pemilik,menyempurnakan, penambah, mengamalkan)
6. Rabbi (Hadits Abu Hurairah Ra, “ Janganlah seorang buadk berkata “Rabbi” kepad tuanya).
7. Rabbuha (Rabb berarti pemilik, sedang rabbuha berarti hilangnya unta hingga ditemukan oleh pemiliknya).
8. Rabaib (kambing yang diurus di rumah bukan diluar).
9. Rabbaniyyin (mereka yang mendidik murid-murid dari mulai ilmu yang kecil/ mudah sebelum yang sulit). Juga, disebutkan orang yang pandai, beramal, dan pengajar. Dengan demikian, Rabbani (insan pendidik yang mendidik manusia dari masalah mudah ke masalah yang sulit).
Analisis perbandingan antara konsep ta’lim’, ta’dib dan tarbiyah
Istilah ta’lim’, ta’dib dan tarbiyah dapatlah diambil suatu analisa. Jika ditinjau dari segi penekanannya terdapat titik perbedaan antara satu dengan lainnya, namun apabila dilihat dari unsur kandungannya, terdapat keterkaitan yang saling mengikat satu sama lain, yakni dalam hal memelihara dan mendidik anak.
Dalam ta’lim, titik tekannya adalah penyampain ilmu pengetahuan yang benar, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah kepada anak. Oleh karena itu ta’lim di sini mencakup aspek-aspek pengetahuan dan ketrampilan yang di butuhkan seseorang dalam hidupnya dan pedoman perilaku yang baik.
Sedangkan pada tarbiyah, titik tekannya difokuskan pada bimbingan anak supaya berdaya (punya potensi) dan tumbuh kelengkapan dasarnya serta dapat berkembang
secara sempurna. Yaitu pengembangan ilmu dalam diri manusia dan pemupukan akhlak yakni pengalaman ilmu yang benar dalam mendidik pribadi.
Adapun ta’dib, titik tekannya adalah pada penguasaan ilmu yang benar dalam diri seseorang agar menghasilkan kemantapan amal dan tingkah laku yang baik.
Denga pemaparan ketiga konsep di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiganya mempunyai satu tujuan dalam dunia pendidikan yaitu menghantarkan anak didik menjadi yang “seutuhnya”, perfect man, sehingga mampu mengarungi kehidupan ini dengan baik. waAllahu ‘alam
At-Tadris
At-tadris adalah upaya menyiapkan murid ( mutadarris ) agar dapat membaca, mempelajari dan mengkaji sendiri, yang dilakukan dengan cara mudarris membacakan, menyebutkan berulang-ulang dan bergiliran, menjelaskan, mengungkap dan mendiskusikan makna yang terkandung di dalamnya sehingga mutadarris mengetahui, mengingat, memahami, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan mencari ridla Allah (definisi secara luas dan formal).
1. QS. Al-An’am : 105
Al-Maraghi menjelaskan kata darasta dengan makna yang umum, yaitu membaca berulang-ulang dan terus-menerus melakukannya sehingga sampai pada tujuan. Al-Khawrizmi, Ath-Thabari, dan Ash-Shuyuti mengartikan kalimat darasta dengan makna, “engkau membaca dan mempelajari”.
C. At-Tadris dalam Hadits
Al-Juzairi memaknai tadarrusu dengan membaca dan menjamin agar tidak lupa, berlatih dan menjamin sesuatu.
At-Tahdzib
At-tahdzib adalah pembinaan akhlak yang dilakukan seorang muhadzdzib (guru) terhadap mutahadzdzib (murid) untuk membersihkan, memperbaiki prilaku dan hati nurani dengan sesegera mungkin karena adanya suatu penyimpangan atau kekhawatiran akan adanya penyimpangan, sehingga tahdzib itu dapat mewujudkan insan muslim yang berhati nurani yang bersih, berperilaku yang baik sesuai dengan ajaran Allah(definisi secara luas dan formal).
Thursday, November 19, 2015
BAB 2
PEMBAHASAN
1.
SURAT AL MA’ARIJ AYAT 19-27
Dalam kronologi surah Al Ma’arij ayat 19 – 27
Tidak bisa dipungkiri kalau memang kenyataannya manusia itu sebenarnya
adalah mahluk yang lemah hanya saja kekurangan itu dapat di tutupi karna
manusia di beri kelebihan yang tidak dimiliki oleh mahluk selain manusia yakni
bahwa manusia itu dianugrahi akal oleh sang Maha Mengetahui . Dengan akal
tersebut manusia dapat menutupi kekurangannya . Namun, kemudian yang sangat
disayangkan justru manusia itu lupa akan kenyataan dirinya dan dia mulai
menjadi angkuh kepada Tuhannya, berkehendak sesuka hatinya dan menjadi congkak,
sebagaimana kehidupan bangsa dimasa lampau, sehingga akhirnya mereka di
binasakan akibat ulah perbuatan mereka sendiri .
Manusia seharusnya dapat menyadari
bahwa dirinya diciptakan dimuka bumi ini karna memiliki tugas yang harus
diembannya yang tidak lain bahwa didalam menjalani hidup ini manusia mempunyai
visi berupa amanah yang harus ia jalankan dengan sebaik-baiknya karena amanah
tersebut langsung dari sang Maha Pencipta sehingga nanti dihadapannya harus ia
pertanggung-jawabkan dengan segala konseku kuensinya .Oleh karnanya
kelemahan-kelemahanya seharusnya menjadi kaca supaya ia dapat mengantisi pasi
atas segala kekurangannya sehingga ahirnya Ia tidak menjadi orang yang ingkar
terhadap segala apa yang telah diperintahkan Tuhan untuknya .
Tuhan menciptakan manusia dengan
bentuk yang paling sempurna bukan berarti lantas manusia itu lupa dengan
identitas dirinya sebagai mahluk ciptaan _yang mana seharusnya Ia sadar kalau
hidup ini adalah sekedar lintasan_ yang berarti hidup ini hanyalah sementara
saja :
Sebagaimana firman Allah dalam Surah
Al Ma’arij ayat 19-27
إِنَّ
الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ¤ إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ¤ وَإِذَا مَسَّهُ
الْخَيْرُ مَنُوعًا ¤ إِلا الْمُصَلِّينَ ¤ الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ
دَائِمُونَ ¤ وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ ¤ لِلسَّائِلِ
وَالْمَحْرُومِ ¤ وَالَّذِينَ يُصَدِّقـــُونَ بِيَوْمِ الد ِّيــن ¤ ِ
وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِرَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ ¤
“ Sesungguhnya manusia diciptakan
bersifat keluh kesah lagi kikir.Q Apabila ia ditimpa kesusahan ia
berkeluh kesah,Q dan apabila ia mendapat
kebaikan ia amat kikir,Q kecuali orang-orang yang mengerjakan
salat,Q yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya,Q dan
orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu Q bagi orang
(miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau
meminta),Q dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,Q dan
orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. ( Q.S Al Ma’arij ; 19-27 )
Pada ayat ini ditegaskan bahwa
manusia itu bersifat suka berkeluh kesah dan kikir. Namun, sifat ini dapat
diubah jika dituruti petunjuk Tuhan yang dinyatakan-Nya dalam ayat 22 s.d. 24.
Manusia yang menghindari petunjuk Tuhan dan seruan Rasul; mereka adalah
orang-orang yang sesat.
2.SURAT AR-RUM AYAT 54
Dalam
kronologi surah Ar Rum ayat 54
اللَّهُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ
جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ
الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari
keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi
kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan
beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha
Mengetahui lagi Maha Kuasa.
Kepada manusia dibentangkan jalan
yang lurus yang menuju kepada keridaan Allah dan kebahagiaan hidup di dunia dan
di akhirat sebagaimana yang disampaikan Rasulullah yang termuat dalam Alquran
dan hadis. Di samping itu terbentang pula jalan yang sesat, jalan yang
dimurkai-Nya yang menuju kepada tempat yang penuh derita dan sengsara di
akhirat nanti. Manusia boleh memilih sa1ah satu dari kedua jalan itu; jalan
mana yang akan ditempuhnya, apakah jalan yang lurus atau jalan yang sesat.
Kemudian mereka diberi balasan nanti sesuai dengan pilihan mereka itu.
Ini adalah bagian terahir atau
keempat dari ayat-ayat yang berbicara tentang perbuatan-perbuatan Allah swt.
yang membuktikan ke-Esaan-Nya dan keniscayaan hari kiamat .Ayat diatas
dikemukakan setelah aneka ragam argumen dan bukti yang telah dipaparkan oleh
ayat yang sebelumnya .Argumen yang dikemukakan disini mencakup keadaan manusia
pada tahap yang paling dini dari kehidupannya, sampai ketahap akhir
keberadaannya di pentas bumi sambil menunjukkan kekuasaannya mempergantikan
kondisi manusia .Ayat ini memulai dengan menyebut nama wujud yang teragung dan
yang terkhusus baginya serta yang mencakup segala sifat-Nya yakni;
Allah swt dialah menciptakan manusia
dari keadaan lemah yakni setetes seperma yang bertemu dengan indung telur
laki-laki, tahap demi tahap meningkat dan meningkat hingga kemudian setelah
melalui tahap bayi, kanak-kanak, dan remaja hingga ahirnya menjadi lansia .Dia
menjadikan kamu sesudah kamu dalam keadaan lemah itu memiliki kemampuan
sehingga kamu menjadi dewasa dan memasuki fase yang sempurna, hal ini memang
mengikuti hukum sunatullah yakni dalam proses perubahan manusia melalui tahap
demi tahap agar manusia dapat berfikir dan merenungkan hakekat penciptaanya dan
ahir dari kehidupannya atau fase ahir dunia yang berupa kematian, sehingga dia
tidak ingkar kepada sang Penciptanya .
Dia menjadikan kamu sesudah
menyandang kekuatan itu menderita kelemahan _kembali dengan hilangnya sekian
banyak potensi dan munculnya tanda-tanda peringatan alamiah yang berupa
hilangnya kekuatan dan potensi diri tadi .Dia menciptakan apa yang ia kehendaki
sesuai dengan ke-Esaan-Nya yang Maha Agung dan Dialah yang Maha Perkasa atas
segala sesuatu .
Ayat diatas melukiskan pertumbuhan
fisik kendati kelemahan dan kekuatan berkaitan juga dengan mental seseorang
.Ada kelemahan manusia menghadapi sekian banyak godaan, juga tantangan yang
menjadikan semangatnya berkurang .Disisi lain ada kekuatan yang dianugrahkan
Allah berupa kekuatan fisik dan mental dalam menghadapi gelombang hidup .Tentu
saja kekuatan dan kelemahan fisik maupun mental seseorang berbeda kadar
kemampuannya tiap individu yang satu dengan individu yang lainnya, diatas dasar
itulah agaknya kata ضعف _dha’if” kelemahan dan kata قـوة _Quwattun” kekuatan diaplikasikan
dalam bentuk indefinit .
Perlu dicatat bahwa apa yang
dikemukakan ayat diatas adalah uraian tentang tahap-tahap hidup manusia secara
umum, bahkan yang dialami oleh umunya setiap manusia_ .Karna diantara manusia
tidak
menentu didalam perjalanan hidupnya yakni diantaranya manusia ada yang
meninggal dunia di tahap awal perjalanan hidupnya, ada juga yang pada fase
puncak kejayaannya .Namun, jika tahap puncak itu dilampauinya, maka pasti dia
akan mengalami tahap kelemahan lagi .Adapun yang dialami manusia, hakikatnya
semua kembali pada Allah swt. Karena itu, setelah menyebut tahap-tahap
tersebut, ayat diatas mengegaskan bahwa Dia menciptakan apa yang ia kehendaki,
dan menetapkan buat manusia tahap-tahap yang dilalui serta kadar masing-masing
itu sama-sama ditetapkan atas dasar kekuasan-Nya yang menye luruh, karna Dia
Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa .
2.
SURAT AL- AHZHAB AYAT 72
Dalam kronologi surah Al Ahzhab ayat 72
إِنَّا
عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ
يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ
ظَلُومًا جَهُولا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada
langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu
dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh,
Al-‘Aufi
berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yang dimaksud dengan al-amanah adalah, ketaatan yang
ditawarkan kepada mereka sebelum ditawarkan kepada Adam, akan tetapi mereka
tidak menyanggupinya. Lalu Allah swt. berfirman kepada Adam: “Sesungguhnya Aku
memberikan amanah kepada langit dan bumi serta gunung-gunung, akan tetapi
mereka tidak menyanggupinya. Apakah kamu sanggup untuk menerimanya?” Dia
menjawab: “Ya Rabb-ku, apa isinya?” Allah berfirman: “Jika engkau berbuat baik,
engkau akan diberi balasan, dan jika engkau berbuat keburukan engkau akan
disiksa.” Lalu Adam as. menerimanya dan menanggungnya. Itulah firman Allah: wa
hamalaHal insaanu innal insaanu kaana dhaluuman jaHuulan (“dan dipikullah amanat
itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dhalim dan amat bodoh.”)
KESIMPULAN
Manusia seharusnya dapat menyadari
bahwa dirinya diciptakan dimuka bumi ini karna memiliki tugas yang harus
diembannya yang tidak lain bahwa didalam menjalani hidup ini manusia mempunyai
visi berupa amanah yang harus ia jalankan dengan sebaik-baiknya karena amanah
tersebut langsung dari sang Maha Pencipta sehingga nanti dihadapannya harus ia
pertanggung-jawabkan dengan segala konseku kuensinya .Oleh karnanya
kelemahan-kelemahanya seharusnya menjadi kaca supaya ia dapat mengantisi pasi
atas segala kekurangannya sehingga ahirnya Ia tidak menjadi orang yang ingkar
terhadap segala apa yang telah diperintahkan Tuhan untuknya .
Kepada manusia dibentangkan jalan
yang lurus yang menuju kepada keridaan Allah dan kebahagiaan hidup di dunia dan
di akhirat sebagaimana yang disampaikan Rasulullah yang termuat dalam Alquran
dan hadis. Di samping itu terbentang pula jalan yang sesat, jalan yang dimurkai-Nya
yang menuju kepada tempat yang penuh derita dan sengsara di akhirat nanti.
Manusia boleh memilih sa1ah satu dari kedua jalan itu; jalan mana yang akan
ditempuhnya, apakah jalan yang lurus atau jalan yang sesat. Kemudian mereka
diberi balasan nanti sesuai dengan pilihan mereka itu.
KELEBIHAN
MANUSIA DALAM SURAT AL MA’RIJ AYAT 19-27,SURAT ARRUM AYAT 54 DAN SURAT AL AHZAB
AYAT 72
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Shuhuf Subkhan

Disusun
oleh : Irwan Dahlan
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
BREBES
2015
Subscribe to:
Posts (Atom)